Nexian T909, Kado buat Kakak

Sudah melewati Ujian Nasional, ulang tahun dan belum pernah dibelikan ponsel menjadi alasan kenapa kami memutuskan untuk memberikan ponsel pada saat hari jadi Kakak tanggal 2 Juni nanti. Hobinya mendengarkan musik dan sulit lepas dari TV membuat kami memilih Nexian T909.
nexian T909
Sebenarnya Nexian punya 3 tipe ponsel yang dilengkapi fitur TV tuner tapi tipe NX-T909 ini memiliki layar (QVGA Color LCD) paling lebar yaitu 2.8″. Dengan antena yang bisa dipanjangkan sampai 20 cm, tidak sulit mendapatkan sinyal bagus. Apalagi antenanya bisa dibengkokkan dan diputar 360 derajat. Orientasi layar yang bisa diubah jadi horizontal, tampilan dan suara TV yang cukup jernih jadi nyaman untuk dinikmati. Serunya, kita bisa mengambil gambar snapshot dari tayangan TV. Kontrol channel dan volume suara juga mudah dengan trackpad navigator. Tapi bagian ujung antena hanya setebal jarum yang lentur, tak terbayang bagaimana nasibnya di tangan anak laki-laki 12 tahun dan anak perempuan 8 tahun yang masih rajin rebutan.

Lagu-lagu favorit Kakak yang berformat mp3 bisa diputar di fitur audio player. Fitur FM Radio yang bisa diaktifkan tanpa headset, dilengkapi tombol record. Sudah terbayang bagaimana Kakak bakal mengeksplorasi fitur itu.

NX-T909 dilengkapi kamera 2 megapixel tanpa LED flash. Repotnya, untuk masuk ke fitur kamera tidak ada shortcut, harus buka menu lalu pilih kamera. Untuk merekam video lebih panjang lagi jalannya, masuk menu, pilih multimedia, pilih video recorder. Untuk menyimpan file, tersedia 8 MB internal memory, kalau masih kurang bisa ditambah MSD card di external memory slot.

Fitur online cukup lengkap, browser, Opera Mini dan Email. Fitur jejaring sosial aplikasi Facebook dan Twitter sudah tersedia. Selain Nexian Messenger dan Nexian Zone, NX-T909 juga menyediakan apilkasi Yahoo! Messenger, NMC Player, MSN dan Skype. Chatting pasti lebih lancar dengan keypad QWERTY. Sayangnya Yahoo! Messenger yang saya coba tidak bisa multitasking. Jadi kalau membuka layar lain, Yahoo! Messenger otomatis sign out.

Koneksi online hanya tersedia GPRS, belum ada 3G dan Wi-fi. Bluetooth dan mini USB tersedia. Bad news untuk Kakak, saat ini pilihan gamenya hanya ada dua. But the good news is, bisa ditambah game atau aplikasi lainnya karena sudah Java Supports.

Fitur dual GSM on, belum ketemu manfaatnya buat Kakak. Any idea?

NX-T909 Red

Nexian T909

Ada 2 pilihan warna, hitam dan merah. Kami pilih yang merah. Beberapa hari yang lalu kami membelinya dengan harga 777.000 IDR. Entah karena masih terlalu baru atau kota kami yang agak pinggir, di ITC Depok, kami tidak menemukan penjual sticker anti gores untuk layar dan sarung (casing) pelindung yang cocok untuk tipe ini.

Artikel ini dibuat dalam rangka belajar membuat review sebuah produk. Prosesnya cukup lama (2 hari) dan bikin sakit kepala *curcol deh*. Silakan memberi saran dan kritiknya, pleeeeeeease……..

Kotak Amal

Waktu sholat Jumat atau saat pengajian di Masjid, kotak amal tiba di depan kita. Lembaran uang manakah yang anda pilih untuk dimasukkan ke kotak amal? Lembaran yang bernilai paling besar atau paling kecil?

Dulu, biasanya aku repot rogoh-rogoh dompet atau tas mencari lembaran uang yang tidak terlalu besar nilainya. Kalau tidak ketemu, mau memasukkan uang receh… malu, uang puluhan atau ratusan ribu…. berat. Akhirnya urung beramal. Semoga anda tidak pernah mengalami gagal beramal karena urusan sepele seperti itu.

Atas nasihat seorang guru, sekarang aku punya kotak infak sendiri di rumah. Beliau mengajak untuk membiasakan berinfak setiap hari setelah sholat Subuh. Juga mengucapkan sebaris niat saat memasukkan uang ke dalam kotak infak.

Sebisa mungkin, setiap hari aku memasukkan rata-rata lima ribu rupiah. Secara kasat mata, ini manfaat yang aku rasakan,

    1. Tak ada lagi ritual rogoh-rogoh saat ketemu kotak amal. Uang sudah siap ‘transfer’ dari kotak infak di rumah ke kotak amal di masjid.
    2. Berinfak di rumah tak perlu repot cari uang ribuan. Puluhan ribu tak masalah, tinggal ambil ‘kembalian’ secukupnya.
    3. Saat ke masjid lupa bawa uang amal dari rumah, no worry, dompetku dan kotak amal di rumah kan ‘online’. Tinggal ambil dari dompet, nanti di rumah (kalau ingat) diganti dari kotak infak. Kalau lupa, alhamdulillaah… tambahan amal.
    4. Jumlah infak tidak terpengaruh tanggal muda atau tanggal tua
    5. Selalu punya simpanan uang ribuan saat abang tukang roti bilang tak ada kembalian.

Manfaat apa yang anda rasakan?

In Concert with Strangers

Cikini Klasika 2011

Orkes Pemula dalam Konser Cikini Klasika 2011

Sekitar 2 bulan yang lalu anakku bermain biola di Konser Cikini Klasika 2011. Naura dan puluhan anak lainnya tergabung dalam orkes pemula, memainkan 3 buah lagu mengiringi sebuah paduan suara. Surely, it was an amazing experience. Tapi yang lebih menakjubkan adalah cerita di balik konser indah itu.

naura

My 7 years old angel, Naura (in spotlight)

Call me norak or anything tapi aku baru tahu kalau kumpulan anak yang menghasilkan harmoni indah itu, tak kenal satu sama lain. Naura hanya kenal teman satu sekolah, yang lain juga begitu.

Memang mereka mengadakan latihan gabungan 5 kali sebelum gladi resik. Empat kali dengan sesama pemain biola saja, satu kali dengan seluruh anggota orkes berikut paduan suara. Tapi tak ada yang sempat ngobrol santai sebelum, selama atau sesudah latihan. Datang, menyetem biola, latihan, snack time, latihan, dan pulang.

They don’t know each other, they don’t have the same favorite color, they don’t play the same notes, they play a various of instruments, but still they make a beautiful harmony. Kok bisa? Ternyata rahasianya ada di selembar kertas, kalo gak salah namanya partitur. Menurutku menakjubkan, puluhan anak dengan karakter segala macem, begitu mereka patuh pada partiturnya masing-masing, hasilnya luar biasa.

We know each other, teman, tetangga atau kerabat. Bahkan kita akrab dengan beberapa diantaranya. We don’t have to wish on the same star, tapi masing-masing kita punya partitur, yang biasa kita sebut kitab suci. As long as we stick to it, pastinya, kita bisa mengalunkan harmoni kehidupan yang menyenangkan.

Don’t you think so?

Posting Gambar di Blog WordPress

Pengalaman kedua kali insert gambar dalam artikel blog bikin aku jambak-jambak rambut, karena sudah 5 kali upload 2 gambar yang sama kok tidak juga muncul dalam artikel??? Padahal waktu pertama kali langsung sukses. Akhirnya nyerah, buka google, ketik keyword persis seperti judul di atas, klik link di baris pertama, keluar this helpful page.

Langsung quick reading (karena napsu & penasaran), dan oooooo……. ternyata terlewat klik tombol “insert into Post”. Setelah dipraktekkan, voila!, bisa dinikmati di artikel Brossing, not Browsing.

Tapi ada satu masalah lain. Di gallery-ku ada 3 image yang sama dan tidak terpakai, bagaimana cara menghapusnya?

Brossing, not browsing

It’s brossing not browsing. Itu istilah ciptaanku, brossing maksudnya meronce manik akrilik menjadi bross.

Awalnya, tetanggaku, Bu Nunik berbagi ilmu meronce manik akrilik menjadi bunga. Aku coba meronce, jadilah bunga pertama. Anakku si pencinta bunga langsung bilang, “wah bagus Mah, buat aku ya…..” Aku memang gampang ge-er kalau dipuji anak, lalu aku buat lagi. Kok jadi addict?. Akhirnya berlanjut sampai 11 tangkai bunga. Tapi aku tidak hobi memajang bunga, what would I do dengan bunga-bunga ini, padahal masih pengen bikin lagi.

alat & bahan

alat dan bahan

Ternyata solusi datang dari my seven years old daughter. Dia menjual bunga-bunga itu ke teman sekolahnya. And sold out in a day! What she did is so inspiring. Lalu aku ikut menawarkan bunga akrilik itu ke teman-temanku, hasilnya? Tidak laku setangkai pun *tepokjidat*. Ternyata mereka bukan pemajang bunga juga. Bagaimana ini? Aku masih addict meronce….

Bu Nunik memberikan ilmu lanjutan, meronce menjadi bross. Dari sini aku super happy, karena brossku banyak peminatnya jadi bisa terus dan terus brossing. Bahkan dengan modal yang sangat kecil bisa memberikan untung yang lumayan. Direct selling, pakai reseller atau ikut bazaar, pokoknya super seru dan sibuk. Jadilah aku pengrajin & penjual bross…. for a few months.

bros

bross manik akrilik

One day, aku menerima order souvenir bross. Tidak terlalu banyak, hanya 100an bross. Tapi setelah itu aku jenuh karena dengan bahan yang sama hanya akan menjadi bentuk bross yang sama. Jiwa kreatifku menuntut penyaluran (halah!). Mulailah aku melirik wire jewelry.

Lately, kangen brossing tapi me-time-ku habis untuk blogging. Tapi kalau ada yang berminat pesan, pasti disempet-sempetin deh……

Ayo, ayo, dipilih, dipilih…… lalu silakan dipesan…..

Saat Anak Bertanya tentang Seks

Ma, aku asalnya dari mana? 
Bun, pasangan sejenis itu apa sih? 
Ayah, mimpi basah itu mimpi berenang ya?

Pernahkah mendengar hal seperti itu dipertanyakan oleh anak usia 4-10 tahun? Atau anda sudah pernah mendengar yang lebih ‘advanced’? Bagaimana anda menyikapi atau menjawabnya? Sudah siapkah anda saat pertanyaan semacam itu dilontarkan oleh anak anda?

Seorang ibu sambil berusaha mengatasi rasa kagetnya, tergagap, menjawab dari mana asal si kecil. Diceritakanlah panjang lebar bagaimana bertemu ayah, saling mencintai, lalu menikah, hamil 9 bulan, dan lahirlah si kecil. Mendengar jawaban ibu, kening si kecil berkerut, komentarnya, “kata Davi, dia asalnya dari Padang, bu, trus aku asalnya dari mana?”.

Anda tidak perlu mengalami hal seperti itu karena saya akan berbagi tips dari seminar ibu Elly Risman, Psi (Yayasan Kita & Buah Hati) bertema “PeDe Bicara Seks dengan Anak Anda”

Saat anda mendapat pertanyaan tentang seks dari anak, the first thing you have to do is
1. Tenang & kontrol diri
Jika tenang maka anda dapat berpikir lebih jernih untuk benar-benar mencerna inti pertanyaan anak anda yang sesungguhnya. Tarik napas panjang, pastikan anda tidak salah mengerti.

2. Cek pemahaman anak
“Apa yang kamu tahu tentang hal itu, nak?”
Saat menanyakan ini kepada anak, anda dapat
– mencuri waktu untuk berpikir lebih lama
– memastikan apa sebenarnya yang ingin diketahui
– mengetahui mungkin saja si anak sudah tahu jawabannya namun ingin menguji anda atau mencocokkannya dengan jawaban anda

3. Katakan apa yang anda rasakan
Anda kaget, bingung, biarkan anak tahu apa yang anda rasakan, jangan biarkan mereka menebaknya.

4. Putuskan, anda akan menjawab langsung atau tidak. Jika tidak, tunda dengan jujur.

Saat anda memutuskan untuk menjawab, berikut kiatnya.
1. Jika anda sudah menangkap inti pertanyaannya, berikan jawaban yang pendek dan sederhana. Kaitkan dengan sains.
2. Sesuaikan jawaban anda dengan usia, kemampuan berpikir dan perkembangan emosi anak
3. Kaitkan dengan seseorang yang dekat dan dikenal anak
4. Kunci jawaban dengan norma agama. Tegaskan bagaimana norma agama anda memandang masalah tersebut. Also keep it short and simple.
5. Manfaatkan The Golden Opportunity. Yaitu peristiwa di sekitar anak yang bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan tentang pendidikan seks. Misalnya saat anak melihat kucing kawin atau berita tentang artis yang hamil di luar nikah.

Tips di atas kelihatannya sederhana ya, prakteknya? Ada baiknya anda berlatih dengan memperkirakan beberapa pertanyaan yang akan muncul. Kita bisa berlatih bersama di sini, pertanyaan apa saja (tentang seks) yang pernah diajukan kepada anda? Bagaimana anda menjawabnya?

PW: Posisi (Wu)enak

Hmmm… pikirannya langsung ‘kemana-mana’ ya? It’s about posisi saat menulis. Seperti apa posisi dan suasana yang membuat rangkaian kata yang ada di kepala Anda dengan mudah tertuang di layar monitor? Duduk di depan meja dan komputer kantor? Gelap-gelapan tengah malam saat semua sudah tidur? Memangku laptop di taman kampus? Atau sambil menghirup cappuccino di kafe favorit?

PW-ku adalah menulis di blackberry, lights off, rebahan sambil mengantar my 8 years old daughter tidur, di atas bunk-bednya. Posisi ini aku temukan berdasarkan beberapa kali trial & error. Sudah pernah aku coba menulis sambil menemani anak-anak nonton tv, not working. Sambil ngobrol dengan ibu-ibu di Warung Bu Omang, cuma dapat satu kalimat. Sambil duduk menanti mesin cuci selesai berputar, bisa dapatlah pokok-pokok paragrafnya, namun tidak terlalu lancar.

Duduk di depan meja, menulis langsung di komputer doesn’t work for me, karena komitmenku sebagai full-time mom, mengharuskan aku mengefisienkan banyak hal, at least ada 2 hal yang dikerjakan bersamaan. That’s why I have to mobile a lot. Menulis di HP menurutku paling efisien, begitu ilham datang, gadget siap di tangan at most of the time.

So, what is your PW?

Ritual Nonton Bioskop

…mohon perhatian, pintu teater 3 telah dibuka, bagi penonton yang telah memiliki karcis…..

It sounds so familiar tapi aku lupa kata-kata lanjutannya karena beberapa bulan terakhir ini tak punya alasan untuk berkunjung ke sana. Hiks, kangen. Not just me, mungkin separuh penduduk Jakarta merasakan hal yang sama. Do you?

Sesaat setelah mendengar berita bahwa film Hollywood tidak lagi masuk ke Indonesia, aku berusaha ‘jaim’. Gakpapaaaaa, siapa butuh film Hollywood kalau banyak drama Korea bertabur berondong manis begini *sambil nonton DVD Secret Garden*. Sayangnya, drama Korea cuma asik untuk mengisi me-time (secara suami & anak-anak gak ada yang doyan). Untuk weekend, ternyata kita kangen film hollywood untuk ditonton di bioskop.

Kalau lagi kangen, bawaannya pengen nostalgia deh. So far, aku mengalami 3 fase ritual nonton bioskop.

Fase 1 – With dad
Nonton bioskop sudah diperkenalkan oleh Papah sejak aku duduk di SD, lupa kelas berapa. Dulu kita selalu nonton di bioskop berjarak sekitar 500m dari rumah, tanpa nomor tempat duduk, bangku plastik, tanpa AC, full asap rokok, dan tidak jarang ada hewan pengerat yang lewat. Kita selalu duduk dekat pintu keluar. Film yang kita tonton biasanya berjarak 2 atau 3 bulan dari tanggal launchingnya. Still, it was fun.

Fase 2 – With friends
Waktu SMA, bioskop full asap rokok itu terlupakan. Aku dan teman-teman selalu nonton di bioskop dengan seat number, sejuk, empuk dan wangi popcorn.

Fase 3 – With hubby & kids
Jenis bioskopnya tidak terlalu berbeda, tetap sejuk, empuk dan wangi popcorn. Namun kini makin banyak pilihan bentuk tempat duduk, ada yang standar, ada yang lebih lega bahkan ada yang bisa selonjoran. Teknologinya juga makin memanjakan mata, untuk film yang bertanda 3D, kita pakai kacamata khusus.

Sepertinya sekarang aku harus memulai fase ke empat, bioskop di rumah. Things we have to do:

    1. Sabar menanti versi DVD film masuk ke Indonesia
    2. While doing it, siapkan satu ruangan kedap suara berisi one comfort couch, one huge LED 3D TV and a set of home theatre.

Ada yang punya rekomendasi harga terjangkau? Anyone?

20 Minutes Parent

Ini sedikit oleh-oleh dari seminarnya Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Buah Hati. Beliau sangat concern dengan kualitas komunikasi antara orang tua dan anak terbukti dari 2 seminar dan 2 tema berbeda, hal ini selalu disinggung di awal pembahasan.   Sebenarnya 20 minutes parent ini cuma a very small part of the intro, belum masuk ke inti tema seminar. Tapi hal ini sangat ‘menyentil’ realitaku.

Dear parents, dalam sehari, berapa jam waktu anda khusus untuk anak anda? Dua jam? Tiga jam? Jika anda seorang ibu rumah tangga seperti saya, mungkin berani mengaku 23 jam, 1 jamnya untuk keperluan mendesak seperti ke kamar mandi atau yang lainnya. Really? Mari kita simak ilustrasi berikut.

Pagi hari, Yanti (35th) membangunkan anak-anaknya, Kakak (11th) dan Adek (7th), she said,

“Kak, bangun kak, cepet sholat Subuh, kakaaaak ayo dong, waktu Subuh kan pendek, biasain dong sholat tepat waktu kan kakak sebentar lagi udah wajib sholatnya, ayo buka matanya, habis sholat diberesin dong meja belajarnya, masa meja kok gak keliatan dasarnya, pantesan repot kalo cari segala macem, deeek, bangun dek, ayo bangun udah Subuh, makanya nonton tv jangan kemaleman dong, jadi pada susah kan bangunnya, nanti kalo bangun kesiangan semua serba buru-buru trus ada aja deh yang ketinggalan, kalo udah gitu mamah juga yang repot nganterin segala macem ke sekolah. Adeeek ayo banguuuuun……”

Coba deh baca narasi di atas with ngomel speed, how much time do you need? I only need 40 seconds. Dengan slow ngomel speed mungkin bisa 60 detik.

Scene berikutnya di meja makan, saat sarapan,

“Adek, udah berdoa belum?, kakak sayurnya dimakan dooong, kakak kan perlu jaga kesehatan, adek ayo jangan bengong, kalo udah selesai makannya jangan lupa vitaminnya trus langsung sikat gigi ya….,” dan seterusnya. It also take another 1 or 2 minutes only. Kemudian rentetan pesan lainnya saat anak-anak pamit berangkat sekolah, sekitar 1-2 menit juga. So, total waktu Yanti untuk anak-anaknya di pagi hari, sekitar 5 menit saja.

What about the rest of the day? Siang hari, menyambut anak-anak pulang sekolah, 5 menit. Sore hari mengingatkan PR, 5 menit. Malam hari “nyanyian” pengantar tidur, 5 menit. Jadi total waktu Yanti untuk anak-anak dalam sehari adalah 20 menit. She is a 20 minutes parent.

Are you?

Blogger Labil

Menurut para blogger senior, salah satu cara membuat blog bagus adalah memfokuskan tema bahasannya. Focus on something that you are really good at it or something that you interested. Misalnya tentang tutorial blogging saja, parenting saja atau wisata kuliner saja.

I wonder, gimana bisa? Aku pengguna banyak aplikasi desain grafis, membuat beberapa jenis handycraft but I’m no expert at all. Aku tertarik pada banyak hal, gadget canggih, kucing lucu juga wisata budaya. Also, I’m very much concerned about my kids, bagaimana cara memilih sekolah atau bagaimana menyikapinya saat mereka mulai tertarik dengan lawan jenis. I really can’t decide it.

Please, jangan menyarankan untuk membuat beberapa blog. Ya memang, women can do multitasking job. But I don’t want to be a 20 minutes parent and I’m not a clockstopper. My 24 hours a day are already full with 2 kids, 1 husband and 1 blog.

Akhirnya, mengingat umur blogku memang lebih muda dari para ABG *alesan*, here I am, memutuskan untuk menjadi blogger labil saja, for now.