Aku & Menulis

Menulis? Bukan gue banget deeehhh….

Waktu masih sekolah, bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sangat tidak kusukai. Seingatku selama 12 tahun bersekolah, hanya ada satu guru bahasa Indonesia yang lumayan. Waktu SMP ada guru yang digandrungi para siswi karena tampangnya di atas rata-rata dan gosipnya dia pacaran sama anak SMA. Sama sekali bukan karena metode pengajarannya.

Yang paling mengerikan dari pelajaran ini adalah mengarang. Apapun itu, cerita tentang liburan, percakapan, worst of all, puisi. Setiap ada tugas ini, my mind gone blank. Never have a clue even how to start. (Semoga anakku tidak baca tulisan ini, bisa-bisa dia bilang, “pantesan aku gak bisa mengarang, ternyata turunan!”).

No one ever told me that mengarang -in the real life we call it menulis- itu leads to many important things. Menulis skripsi saat mau lulus kuliah, menulis CV saat mau melamar kerja, menulis presentasi atau proposal saat menjual ide pada klien atau para bos dan menulis di kolom parent’s comments untuk buku komunikasi sekolah anak.

Ajaibnya, with my writing-incompentency, aku memutuskan untuk blogging yang separuh kerjanya adalah menulis. Why? Karena finally aku punya banyak alasan untuk (kembali) belajar menulis.

So parents, jangan asik-asik ngeblog sendiri, ayo kita beri anak-anak alasan untuk belajar menulis dari sekarang.

Bike 2 School

Maksa banget ya, kalau aku mengaku bahwa aku yang mempelopori tren bike to somewhere, work or school. Padahal, aku melakukannya jauh sebelum bersepeda menjadi sangat populer seperti sekarang ini. I bike, not to my school but to my daughter’s yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah. Saat itu anakku baru masuk tingkat playgroup, sekarang dia sudah di akhir kelas 2 SD, berarti 4 tahun yang lalu aku sudah bike to school.

Walau belum tren, bersepeda memang menyenangkan. Kebetulan rute kami melewati perumahan yang masih banyak pohon besar juga menyusuri sungai kecil. Banyak pemandangan menarik sepanjang perjalanan. My kid and I get to scream together, “meluncuuuuurrrr!” saat jalanan menurun. Sarapan di atas sepedapun biasanya lebih lancar buat si kecil.

Sejujurnya, all that fun was to my three years old daughter. Aku bahagia karena bisa menikmati every joyful smile of her sepanjang perjalanan ke sekolah *emak-emak banget siiiiy*. No fun to bike saat pulang sekolah jam 11.30 siang. No fun bersepeda dengan baju tunik, celana jeans dan sendal berhak 5 cm. No fun at all saat bulan puasa si kecil tetap ngotot bike to school pulang-pergi. No fun pas ngos-ngosan melewati para tukang ojek yang sedang mangkal then they give me a -kenapa gak naik ojek aja sih buuuu?-look.

Ya, kalau no fun, kenapa pilih sepeda? Karena sepeda satu-satunya pilihan yang ada, saat itu. We spend a lot for the best educations we can get for the kids, untuk yang lainnya mengalah. Sepedaku adalah sepeda mini seharga limaratus ribu rupiah di tambah duapuluh ribu untuk tempat duduk boncengan yang disangkutkan di stang. Pretty funny (or ironic?) kalau dibandingkan dengan budget dan alasan para bikers yang tren sekarang ini.

So, am I the trendsetter? *tetepmaksa*

Second Trial – Done by a single click!

Baru tau kalo design website bisa pake Adobe Dreamweaver dari buku “CSS Untuk Orang Awam” terbitan Maxikom. Situs W3Schools.com never mentioned it. Nah, inilah sebabnya ada kata bijak, jangan belajar hanya dari satu guru.

Memang Adobe Dreamweaver makes things a lot easier, but me – as a graphic designer – yang biasa menggunakan photoshop, pagemaker dan freehand, really want to go …..grrr….. *jambak-jambak rambut*. Mengatur 3 kolom saja bisa jadi urusan seharian. Still don’t get it, how float, overflow and clear effected on an element. Bahkan sampai artikel ini ditulis that case is still remain a mistery *now playing: OST of X-File*

At the end of the day, aku buka file baru. Klik ‘File’ pilih ‘New’ Dreamweaver mengeluarkan dialog box, ternyata ada banyak menu pilihan struktur dasar website. Tinggal pilih lalu klik and voila! Struktur website dengan 3 kolom, header dan footer is done by a single click! *tepokjidat*

First trial: It doesn’t look like a website

Awalnya aku mau ikut kursus web programming di lembaga pendidikan yang ada di jalan margonda, depok. Tapi kelas baru berjalan jika sudah ada at least 6 pendaftar, menunggu pendaftar pun tanpa ada batas waktu. I don’t like to wait, so I decided to learn web programming online. Tak lama browsing, ketemu http://www.w3schools.com.

Aku mulai belajar HTML tanggal 11 April 2011, a day before my mom’s birthday. Lalu XHTML dan CSS. Menurut situs, pelajaran berikutnya adalah Javascript. Baru masuk beberapa poin di javascript, I got bored with all those coding. Aku putuskan untuk langsung mencoba membuat website.

Di http://www.w3schools.com mencontohkan membuat file html dengan text editor sederhana seperti Notepad. Aku coba, terbata-bata, sambil copas dari contoh-contohnya, jadilah 2 halaman yang bertautan but it doesn’t look like a website at all. Tidak berstruktur, sangat berantakan. I’m not very happy about it. Lalu aku melanjutkan belajar javasript lagi.

Saat tidak menemukan buku yang khusus tentang javascript, aku beli satu-satunya buku tentang CSS di toko buku besar di depok. Dengan bantuan buku ini akhirnya saya berhasil sebuah halaman and it does look like a website.

Blogging, finally

Sampai beberapa hari yang lalu, aku masih tidak mengerti apa tujuannya orang bikin blog. Well, sebenernya sampai hari ini masih belum terlalu tau juga, tapi aku mulai tergoda untuk bikin blog. At least, I understand why I do. A few nights ago aku sepintas melihat film tentang seorang istri yang blogging untuk curhat tentang proyek pribadinya. So, that’s what I’ll do. I blog about my project yaitu membuat & mendisain my own website.