2012 (Bukan Resensi Film)

Walau batal kiamat, 2012 still a pretty gloomy year for me. Malam tahun baruan 2012 di rumah Mamah tahun lalu ternyata jadi yang terakhir. Lebaran 1433H kemarin juga lebaran termuram. Malam takbiran kita lewati dengan mengantar Mamah ke klinik karena kanker payudara yang sudah setahun lebih menemaninya. Lalu keesokan malamnya kita mengantar Mamah ke RSPP, yang ternyata menjadi tempat Mamah berangkat ‘mudik’ ke penciptanya tanggal 24 Agustus 2012.

Sebenarnya masih ada beberapa kiamat kecil yang bikin aku galau tapi sungguh tidak menarik untuk dibahas. Fun facts tentang Cimot lebih seru :). The fact that cimot ada turunan mpus bule jenis maine coon makin kelihatan. Bukan dari penampakannya, tapi dari ulahnya. Cimot kadang membantuku jemur baju, memilih baju dari lemari, merapikan sprei kadang hanya menemani duduk nonton tv.
image

Saat Wildan buka laptop, Cimot paling semangat membantu mengetik, hanya saja dia kurang pandai mengeja :D. But he’s a good doorman, eh, doorcat. Dia tau ada tamu di depan pintu padahal kita tidak dengar suara salam atau pintu diketuk. Sebenarnya maine coon adalah jenis kucing yang tidak terlalu suka digendong berlama-lama. Tapi ternyata ada kasus pengecualian, terbukti kalau Cimot perawat yang sabar. Kalau Naura atau Wildan demam, Cimot yang paling tekun menemani mereka istirahat *pelukcimot*. Ok, enough about cimot walau belum ngomongin tentang posisi tidurnya nan ajaib.

Allah memang Maha Penyayang, Dia tau persis kalo aku gak mungkin sanggup mengalami kemurungan karena penderitaan Mamah all the time. Maka Beliau mempertemukan aku dengan rajutan. Mbak Ika adalah guru merajutku yang ikhlas membagikan ilmunya secara gratis-tisss *pelukmbakIka*. Aku makin terhibur dengan rajutan karena Mamah senang melihatku belajar merajut. Alhamdulillaah, aku sempat membuatkan taplak meja pesanannya, walau hasilnya masih keriting sana-sini.

Di tahun 2012 lahir RBA, Rumah Belajar An Naml, RBA Handicrafts dan Campernik. (Mulai mampet ide nulisnya, bersambung di judul berikutnya).

Advertisements

New Member

image

Cimot. Lengkapnya Cimot II Patapon. Naura yang memilih nama Cimot, after the first Cimot yang sudah lama tiada *hiks*. Nama Patapon itu dari Wildan, after his fave PSP game. Umurnya sekitar 4 bulan, termasuk jenis maine-coon campuran (kata penjualnya). Kurang jelas campuran dengan apa, mungkin domestic cat (baca: kucing kampung) atau mungkin juga campuran belut *ha?*

Sebenarnya Cimot ini bukan pilihan awal kita karena dia sama sekali tidak mau dipegang (mirip belut kan?), tidak mau dipeluk. Tapi setelah 2-3 hari, dia mulai bersahabat. Mulai mau dielus, mau datang mendekat, sekarang malah hobi ikutan ngumpul.

Walau masih kecil Cimot berbakat jadi master of disguise. Kadang dia mirip celengan kalau lagi nangkring di atas kulkas. Sering dia terlihat seperti lap pel kalau lagi tiduran di bawah jemuran. Bisa juga dia mirip sendal bulu kalau lagi nyelip di rak sepatu. Dan kalau anak-anak mulai gemas, Cimot harus sabar berperan menjadi boneka yang digendong sana-sini.

Mungkin buat Cimot, menjadi peliharaan kita bukanlah hal yang mudah. Walau dia mendapatkan cat food terbaik (dan mahal) tapi tinggal di dapur sungguh cobaan yang berat. Bayangkan, di dapur ada berbagai macam aroma makanan, bisa ayam, ikan atau seafood lain, tapi Cimot cuma boleh makan cat food, all the time. Maapin kita ya, Cim… We love you tapi we have no other place.

Problem lain adalah kalau kita harus pergi menginap. Ottuke? Pernah kita tinggal begitu saja sendirian dengan makanan yang sangat banyak. Cukup menyiksa membayangkan Cimot all alone lebih dari 24 jam. Memang banyak petshop yang menerima penitipan hewan tapi lagi-lagi kita tak tega membayangkan Cimot di dalam kandang kecil berlama-lama karena kita tau he hates it. Akhirnya, minggu lalu saat kita kemping, Cimot berlibur ke rumah Nenek alias dititipkan ke rumah Mamah. Tapi gimana kalau nanti kita mau ajak Mamah berlibur? *mikirnya nanti aja ah*

Foto: cimot menyamar jadi uler melingker

Ramadhan 1432 H – Naura

Alhamdulillaah, tahun ini Naura puasa 29 hari penuh. Minggu awal memang agak berat, bahkan di hari pertama sekolah, siangnya Naura demam. Mungkin dehidrasi karena kelasnya sekarang di lantai 3. Sore selepas Ashar dia keringat dingin. Bikin galau deh. Alhamdulillaah ada ‘obat’ super mujarab, sore itu si Papah sudah di rumah sebelum Maghrib. Kejadian super langka ini sungguh membuat wajah pucat Naura seperti kembali dialiri darah, lalu sanggup mengukir senyum lebar.

Urusan makan, Naura punya cerita yang lebih menyenangkan dibanding kakaknya. Tahun lalu, setiap buka puasa Naura kalap makan risol. Tak kurang 6-8 biji dilahapnya. Tahun ini, minggu pertama Naura tidak bisa berhenti minum teh manis sampai kekenyangan, akhirnya cuma bisa makan nasi sedikit sekali. Minggu ke tiga, mulai ada pertanyaan: “gak puasa sehariiiiii aja Mah, boleh gak?”, pinta Naura. Suatu kali, walau sebelum tarawih sudah makan nasi dengan porsi normal, pulang tarawih Naura ‘duet maut’ sama si Papah. Sungguh pemandangan tiada duanya, seorang ayah (78kg)  dan anak perempuannya (23kg) duduk bersisian menikmati bebek goreng dengan cara yang serupa, ngemut tulang.

Alhamdulilaah, setelah beberapa tahun terakhir selalu tarawih sendiri di rumah, tahun ini bisa di masjid. Demi kelancaran program ini, ada reward boneka “Dress-up-doll” untuk Naura setelah 7 hari taraweh. Tapi rupanya reward ini berlebihan karena hari pertama tarawih dia ketemu teman mainnya di masjid, enjoy dan menantikan tarawih selanjutnya. Besoknya, selesai makan, Naura bersiap tarawih dan berangkat dengan suka hati. Lewat 7 hari, Naura tetap lancar berangkat tarawih walau tanpa iming-iming reward.

Masjid terdekat dari rumah kami ada di luar komplek. Agak jauh but I don’t mind, kan jadi bisa move more (Magic Rules #5 Hypnolangsing). Untuk perempuan di lantai atas, nyaman, banyak angin. Senang akhirnya bisa tarawih di masjid lagi, tapi sedih karena harus jadi saksi bahwa jumlah shaf terus berkurang setiap harinya….. *sigh* ……. masih belum berubah rupanya….

Tarawih di masjid cukup memberikan pengaruh bagi Naura. Dua minggu pertama, Naura bertahan jadi anak manis yang sholat tertib di sebelah mamahnya walau mata lirik sana-sini memantau anak sebayanya yang asyik bercanda. Bisa diduga beberapa hari berikutnya, pengaruh lingkungan mulai bicara. Mulai ada pertanyaan, “boleh gak sholat, sekaliiiiiii aja?” Atau ada gerakan-gerakan aneh, suara bersin tak wajar di tarawihnya Naura. Jajanan di sekitar masjid juga mulai dipertanyakan. Itu apa sih mah? Kenapa temen-temen pada jajan, mah? Aku kenapa gak jajan mah?

Lebaran hari ke dua tanggal 31 Agustus bertepatan dengan ulang tahun Naura yang ke 8. Sang Nini sudah memesan kue dengan dekorasi super heboh. Tapi Naura sempat kecewa, “Kenapa yang dateng nini-nini semua? Temen-temen aku manaaa?” Masih untung dia tidak ingat dengan her birthday present request beberapa minggu sebelumnya. Dia minta iPad *gubrakkk*. Cukup melegakan, dia puas dengan sepatu roda rollerblade sebagai hadiah ulang tahunnya.

Ramadhan 1432H – Wildan

Ramadhan tahun ini sungguh lebih indah, lebih banyak berkah yang kurasakan, terlalu panjang untuk jadi satu artikel saja..

Ramadhan tahun ini, Wildan berhasil menyelesaikan tadarus 30 juz di hari ke 25, dengan ‘motivasi’ yang tepat tentunya. Karena sudah kelas 7, kami memutuskan untuk mengganti reward puasa Wildan dengan reward tadarus. Kami memberikan limapuluh ribu untuk satu juz, kalau khatam selama Ramadhan. Awalnya, dia kurang antusias karena merasa tidak mungkin mampu memenuhinya. That’s my Wildan, give up first, effort later *sigh*. Lalu kami ajak dia membayangkan apa yang bisa dia dapatkan dengan reward yang diterima. Yup, another gaming device, pilihannya: PlayStation Portable. Barulah Wildan tadarus seperti syuting sinetron stripping kejar tayang *mungkin, mana kutahu syuting sinetron kayak apa*. Kemana-mana dia bawa itu Al Qur’an terjemahan yang berat dan setebal yellow pages. And he made it. Btw, jangan bilang-bilang Wildan ya, aku khatam tadarus less than 30 days ya baru taun ini. Biasanya ngepaaasss sampe malem takbiran baru selesai.

Urusan makanan, Wildan masih belum mengalami perubahan signifikan dari tahun lalu. Menemani teh manisnya, ada 3 tajil wajib: kolak pisang, nata de coco dan pukis mini. Setiap hari. Kecuali saat dia ikut ifthor jama’I di sekolahnya. Alhamdulillaah, kami tidak terlalu tergoda berbagai macam es dan gorengan pinggir jalan, jadi tidak sempat terjangkiti batuk pilek selama puasa. Begitu lebaran, lain cerita.

Tahun ini, kita berlebaran di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kota kelahiranku. I don’t really remember when was the last time we went there. Membayangkan cuaca super panas di kota dekat khatulistiwa itu membuat aku berangkat dengan berat hati. Harusnya dengan membayangkan kue bingka, ikan patin bakar, soto banjar, itik panggang dan nasi kuning ikan haruan membuat langkahku lebih ringan kalau tidak ingat hypnolangsing. Angan-angan shopping batu-batu cantik di Martapura pun tak terlalu menggoda. Akhirnya, aku berangkat hanya dengan niat menyenangkan Mama.

Tanggal 28 Agustus kami berangkat ke banjarmasin. Mengantisipasi kemacetan menuju bandara, kami berangkat dari Depok jam 9, mengejar pesawat keberangkatan jam 1. Ternyata, jalanan sepiiiiii, Jakarta, where was everybody?! Jam 10 kami sudah di bandara soetta *manyun 3 jam*.

Di bandara Syamsuddin Noor, saat menunggu bagasi, Wildan mengeluh, “mataku kok perih, Mah?” Kutempelkan tanganku di jidatnya, panas. Galau seketika. Anak non-ASI-ku ini kalau sudah demam, harus ke dokter. So, pagi pertama di Banjarmasin, first destination, rumah sakit.

Kita ikut lebaran tanggal 30 Agustus. Namun di malam takbiran, Wildan bekali-kali talking & walking in his sleep karena demam. Naura gelisah tak bisa tidur karena hawa terlalu panas. Walhasil, kita bertiga tidak ikut sholat Ied karena Wildan sakit dan Naura tidak bisa bangun pagi *manyun*. Alhamdulillaah siangnya Wildan sudah membaik dan kembali mulai menjahili adiknya. Bahkan sore hari sudah bisa ikut menyusuri sungai naik kapal klotok.

What Hypnolangsing Did to Me

Liburan di rumah 3 minggu, absen dari gym 1 bulan, eat whatever I want and lost 2 kg. This is what hypnolangsing did to me. Belum kenal hypnolangsing? Silakan baca di sini.

Aku mulai serius ber-hypnolangsing setelah posting artikel Eat What You Want and Stay Slim tanggal 16 Juni 2011. Saat artikel ini ditulis, tanggal 19 Juli 2011, sudah 2 kg hilang dari badanku.

Actually, sampai saat ini aku belum mempraktekkan 5 Magic Rules secara optimal. Belum ahli membedakan lapar fisik dan lapar emosional. Kadang tetap makan saat lapar emosional. Saat makan kurang menghadirkan kesadaran hingga kadang terlewat fase netral. Dan belum terlalu move more. Namun sudah terbayang kaki barbie-nya mbak Nunny Hersianna (CEO Hypnolangsing) kalau aku menyempurnakan 5MR.

Walau baru turun 2 kg, but I’m pretty sure I could do more karena hypnolangsing memang benar mudah dan menyenangkan. Saat mencoba program loose weight lain, aku sangat khawatir akan rasa lapar. Tapi dengan hypnolangsing, rasa lapar aku sambut dengan suka cita.

Setelah mulai mempraktekkan 5MR, ada beberapa efek yang kualami selain weight loss
1. Sistem pembuanganku lebih lancar
2. Saat makan di resto, aku pilih menu berporsi kecil atau sepiring berdua dengan suami, so…. hemat beb!
3. Rumah lebih rapi because I keep looking for a reason to move more sementara selama liburan kemarin anak-anak sangat betah di rumah saja.
4. Jadi punya alasan sehat untuk berlama-lama window shopping, yaitu to move more

Maaf ya aku sering sharing tentang hypnolangsing. Karena menurutku hypnolangsing memberi pengaruh positif and I like to share this good influence to everyone.

Laki-Laki Paling Beruntung

Percakapan ini terjadi saat Kakak berumur 11 tahun.

Kakak  : “Mah tebak, siapa laki-laki yang paling beruntung di dunia ini?”
Mamah : “Hhhmmm….. siapa ya? Nyerah deh, siapa Wil?” (males mikir)
Kakak  : “Nabi Adam”
Mamah : “Karena?” (keningku berkerut)
Kakak  : “Karena Nabi Adam gak punya mertua”
Tawaku pecah seketika…. but it won’t last very long. Pikiranku langsung melayang mengingat banyaknya cerita kelam tentang hubungan menantu-mertua. Aku bersyukur dan merasa beruntung karena hubungan kami dengan mertua sangat nyaman.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Mamah : “Lho Wil? memangnya kenapa kalau gak punya mertua kok disebut beruntung?
Kakak  : “Ng….. gak tau….” (sambil angkat bahu tinggi-tinggi)

Hahaha….. Aku tertawa sampai sakit perut dan berurai air mata…..

Daur Ulang Musiman

Mendengar kata daur ulang, sahabat blogger pasti langsung teringat Alamendah’s Blog. Kepedulian beliau pada perawatan lingkungan dan pelestarian alam sangat nyata. Setiap kali berkunjung ke sana, saya malu hati. Saya tidak pernah menanam pohon, saya juga tidak memilah sampah. Rasanya I’ve done nothing for the sake of the earth.

Tapi ternyata setiap anak-anak naik kelas, saya punya proyek optimalisasi kertas. Mau disebut daur ulang kertas kayaknya kurang pas karena kertasnya memang belum dipakai.

Tiap akhir bulan Juni, saya menyingkirkan buku sekolah tahun kemarin supaya tempatnya bisa dipakai untuk buku tahun ajaran baru. Untungnya, SD-nya anak-anak memberikan pinjaman buku paket, jadi begitu sekolah selesai, kami tinggal mengembalikan buku-buku paket itu ke sekolah. Tak perlu repot mencari tempat untuk menyimpan karena akan langsung dipakai oleh para adik kelas.

buku wildan

banyak kertas kosong

Buku catatan bekas tahun kemarin tentu tidak bisa dipakai lagi. Tapi selalu disortir dulu. Buku PR dan matematika biasanya penuh, atau tidak banyak sisa lembar kosong. Buku seperti ini langsung lulus sortir.

Buku pelajaran lain biasanya hanya berisi gambar-gambar mind map dan tidak banyak lembaran yang terpakai. (I wonder, anak-anak pada nyatet di mana sih? Masa bukunya pada kosong begini. Apa langsung ditulis di otak mereka ya?) Buku-buku seperti ini takkan saya sia-siakan. Saya potong lembaran yang terisi lalu diklip, siap disimpan.

Kalau semua lembaran kosong ini disatukan dan dijilid lagi saya bisa dapat 3-5 buku kosong tiap tahun. Bahkan saya masih punya sisa lembar kosong dari buku kakak waktu kelas 2. Namun biasanya hanya dipakai untuk coret-coretan karena anak-anak mendapat buku tulis baru tiap awal tahun.

Not much, tapi semoga saja bisa sedikit berpengaruh untuk kelanggengan hutan Indonesia.