Simple Things

Kadang dengan mengatasnamakan ‘sayanganak-sayanganak’ aku setuju membelikan mainan atau ke tempat rekreasi yang agak mahal. Mungkin juga karena malas menghadapi rengekan mereka jika tidak disetujui. Padahal kalau diingat-ingat lagi, anak-anakku seringkali bergembira dengan hal-hal kecil.

Air
Kelihatannya fun level main air berbanding lurus dengan volume air, berbanding lurus juga dengan luas permukaan air. Contohnya, air seember lebih menyenangkan kalau dihamparkan di carport, jadi mereka bisa berseluncur perut. Tapi teori di atas terbantahkan oleh fakta berikut. Kolam renang atau waterpark yang ber-HTM mahal memang seru tapi Naura pernah tak mau berhenti mengeksplorasi tempat cuci kaki di sebuah masjid di kawasan puncak Cisarua.

Gelembung Sabun
“Waaah indaaaah!,” itu komentar Kakak waktu umur 2 tahun, saat pertama kali melihat gelembung sabun beterbangan. Matanya berbinar takjub. Entah itu yang berharga seribuan atau yang dupuluh ribuan, gelembung sabun never fail to bring laughter to them.

Bayangan
Awalnya, anak-anak aku ajak main bayangan saat mati listrik di malam hari untuk mengusir rasa bosan dan takut pada gelap. Sebenarnya aku tidak pandai membuat bentuk bayangan dari tangan, cuma bisa bentuk anjing dan burung. Namun dengan imajinasi anak yang tak terbatas, mereka bisa menciptakan bentuk apa pun, unlimited. Tak ketinggalan mereka dubbing dengan suara & percakapan yang lucu.

But I wonder why? Why I can’t stop them from asking for more toys? (ujung-ujungnya curhat gak jelasss)

Kotak Amal

Waktu sholat Jumat atau saat pengajian di Masjid, kotak amal tiba di depan kita. Lembaran uang manakah yang anda pilih untuk dimasukkan ke kotak amal? Lembaran yang bernilai paling besar atau paling kecil?

Dulu, biasanya aku repot rogoh-rogoh dompet atau tas mencari lembaran uang yang tidak terlalu besar nilainya. Kalau tidak ketemu, mau memasukkan uang receh… malu, uang puluhan atau ratusan ribu…. berat. Akhirnya urung beramal. Semoga anda tidak pernah mengalami gagal beramal karena urusan sepele seperti itu.

Atas nasihat seorang guru, sekarang aku punya kotak infak sendiri di rumah. Beliau mengajak untuk membiasakan berinfak setiap hari setelah sholat Subuh. Juga mengucapkan sebaris niat saat memasukkan uang ke dalam kotak infak.

Sebisa mungkin, setiap hari aku memasukkan rata-rata lima ribu rupiah. Secara kasat mata, ini manfaat yang aku rasakan,

    1. Tak ada lagi ritual rogoh-rogoh saat ketemu kotak amal. Uang sudah siap ‘transfer’ dari kotak infak di rumah ke kotak amal di masjid.
    2. Berinfak di rumah tak perlu repot cari uang ribuan. Puluhan ribu tak masalah, tinggal ambil ‘kembalian’ secukupnya.
    3. Saat ke masjid lupa bawa uang amal dari rumah, no worry, dompetku dan kotak amal di rumah kan ‘online’. Tinggal ambil dari dompet, nanti di rumah (kalau ingat) diganti dari kotak infak. Kalau lupa, alhamdulillaah… tambahan amal.
    4. Jumlah infak tidak terpengaruh tanggal muda atau tanggal tua
    5. Selalu punya simpanan uang ribuan saat abang tukang roti bilang tak ada kembalian.

Manfaat apa yang anda rasakan?

In Concert with Strangers

Cikini Klasika 2011

Orkes Pemula dalam Konser Cikini Klasika 2011

Sekitar 2 bulan yang lalu anakku bermain biola di Konser Cikini Klasika 2011. Naura dan puluhan anak lainnya tergabung dalam orkes pemula, memainkan 3 buah lagu mengiringi sebuah paduan suara. Surely, it was an amazing experience. Tapi yang lebih menakjubkan adalah cerita di balik konser indah itu.

naura

My 7 years old angel, Naura (in spotlight)

Call me norak or anything tapi aku baru tahu kalau kumpulan anak yang menghasilkan harmoni indah itu, tak kenal satu sama lain. Naura hanya kenal teman satu sekolah, yang lain juga begitu.

Memang mereka mengadakan latihan gabungan 5 kali sebelum gladi resik. Empat kali dengan sesama pemain biola saja, satu kali dengan seluruh anggota orkes berikut paduan suara. Tapi tak ada yang sempat ngobrol santai sebelum, selama atau sesudah latihan. Datang, menyetem biola, latihan, snack time, latihan, dan pulang.

They don’t know each other, they don’t have the same favorite color, they don’t play the same notes, they play a various of instruments, but still they make a beautiful harmony. Kok bisa? Ternyata rahasianya ada di selembar kertas, kalo gak salah namanya partitur. Menurutku menakjubkan, puluhan anak dengan karakter segala macem, begitu mereka patuh pada partiturnya masing-masing, hasilnya luar biasa.

We know each other, teman, tetangga atau kerabat. Bahkan kita akrab dengan beberapa diantaranya. We don’t have to wish on the same star, tapi masing-masing kita punya partitur, yang biasa kita sebut kitab suci. As long as we stick to it, pastinya, kita bisa mengalunkan harmoni kehidupan yang menyenangkan.

Don’t you think so?

Posting Gambar di Blog WordPress

Pengalaman kedua kali insert gambar dalam artikel blog bikin aku jambak-jambak rambut, karena sudah 5 kali upload 2 gambar yang sama kok tidak juga muncul dalam artikel??? Padahal waktu pertama kali langsung sukses. Akhirnya nyerah, buka google, ketik keyword persis seperti judul di atas, klik link di baris pertama, keluar this helpful page.

Langsung quick reading (karena napsu & penasaran), dan oooooo……. ternyata terlewat klik tombol “insert into Post”. Setelah dipraktekkan, voila!, bisa dinikmati di artikel Brossing, not Browsing.

Tapi ada satu masalah lain. Di gallery-ku ada 3 image yang sama dan tidak terpakai, bagaimana cara menghapusnya?

PW: Posisi (Wu)enak

Hmmm… pikirannya langsung ‘kemana-mana’ ya? It’s about posisi saat menulis. Seperti apa posisi dan suasana yang membuat rangkaian kata yang ada di kepala Anda dengan mudah tertuang di layar monitor? Duduk di depan meja dan komputer kantor? Gelap-gelapan tengah malam saat semua sudah tidur? Memangku laptop di taman kampus? Atau sambil menghirup cappuccino di kafe favorit?

PW-ku adalah menulis di blackberry, lights off, rebahan sambil mengantar my 8 years old daughter tidur, di atas bunk-bednya. Posisi ini aku temukan berdasarkan beberapa kali trial & error. Sudah pernah aku coba menulis sambil menemani anak-anak nonton tv, not working. Sambil ngobrol dengan ibu-ibu di Warung Bu Omang, cuma dapat satu kalimat. Sambil duduk menanti mesin cuci selesai berputar, bisa dapatlah pokok-pokok paragrafnya, namun tidak terlalu lancar.

Duduk di depan meja, menulis langsung di komputer doesn’t work for me, karena komitmenku sebagai full-time mom, mengharuskan aku mengefisienkan banyak hal, at least ada 2 hal yang dikerjakan bersamaan. That’s why I have to mobile a lot. Menulis di HP menurutku paling efisien, begitu ilham datang, gadget siap di tangan at most of the time.

So, what is your PW?

Ritual Nonton Bioskop

…mohon perhatian, pintu teater 3 telah dibuka, bagi penonton yang telah memiliki karcis…..

It sounds so familiar tapi aku lupa kata-kata lanjutannya karena beberapa bulan terakhir ini tak punya alasan untuk berkunjung ke sana. Hiks, kangen. Not just me, mungkin separuh penduduk Jakarta merasakan hal yang sama. Do you?

Sesaat setelah mendengar berita bahwa film Hollywood tidak lagi masuk ke Indonesia, aku berusaha ‘jaim’. Gakpapaaaaa, siapa butuh film Hollywood kalau banyak drama Korea bertabur berondong manis begini *sambil nonton DVD Secret Garden*. Sayangnya, drama Korea cuma asik untuk mengisi me-time (secara suami & anak-anak gak ada yang doyan). Untuk weekend, ternyata kita kangen film hollywood untuk ditonton di bioskop.

Kalau lagi kangen, bawaannya pengen nostalgia deh. So far, aku mengalami 3 fase ritual nonton bioskop.

Fase 1 – With dad
Nonton bioskop sudah diperkenalkan oleh Papah sejak aku duduk di SD, lupa kelas berapa. Dulu kita selalu nonton di bioskop berjarak sekitar 500m dari rumah, tanpa nomor tempat duduk, bangku plastik, tanpa AC, full asap rokok, dan tidak jarang ada hewan pengerat yang lewat. Kita selalu duduk dekat pintu keluar. Film yang kita tonton biasanya berjarak 2 atau 3 bulan dari tanggal launchingnya. Still, it was fun.

Fase 2 – With friends
Waktu SMA, bioskop full asap rokok itu terlupakan. Aku dan teman-teman selalu nonton di bioskop dengan seat number, sejuk, empuk dan wangi popcorn.

Fase 3 – With hubby & kids
Jenis bioskopnya tidak terlalu berbeda, tetap sejuk, empuk dan wangi popcorn. Namun kini makin banyak pilihan bentuk tempat duduk, ada yang standar, ada yang lebih lega bahkan ada yang bisa selonjoran. Teknologinya juga makin memanjakan mata, untuk film yang bertanda 3D, kita pakai kacamata khusus.

Sepertinya sekarang aku harus memulai fase ke empat, bioskop di rumah. Things we have to do:

    1. Sabar menanti versi DVD film masuk ke Indonesia
    2. While doing it, siapkan satu ruangan kedap suara berisi one comfort couch, one huge LED 3D TV and a set of home theatre.

Ada yang punya rekomendasi harga terjangkau? Anyone?

Blogger Labil

Menurut para blogger senior, salah satu cara membuat blog bagus adalah memfokuskan tema bahasannya. Focus on something that you are really good at it or something that you interested. Misalnya tentang tutorial blogging saja, parenting saja atau wisata kuliner saja.

I wonder, gimana bisa? Aku pengguna banyak aplikasi desain grafis, membuat beberapa jenis handycraft but I’m no expert at all. Aku tertarik pada banyak hal, gadget canggih, kucing lucu juga wisata budaya. Also, I’m very much concerned about my kids, bagaimana cara memilih sekolah atau bagaimana menyikapinya saat mereka mulai tertarik dengan lawan jenis. I really can’t decide it.

Please, jangan menyarankan untuk membuat beberapa blog. Ya memang, women can do multitasking job. But I don’t want to be a 20 minutes parent and I’m not a clockstopper. My 24 hours a day are already full with 2 kids, 1 husband and 1 blog.

Akhirnya, mengingat umur blogku memang lebih muda dari para ABG *alesan*, here I am, memutuskan untuk menjadi blogger labil saja, for now.

Aku & Menulis

Menulis? Bukan gue banget deeehhh….

Waktu masih sekolah, bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sangat tidak kusukai. Seingatku selama 12 tahun bersekolah, hanya ada satu guru bahasa Indonesia yang lumayan. Waktu SMP ada guru yang digandrungi para siswi karena tampangnya di atas rata-rata dan gosipnya dia pacaran sama anak SMA. Sama sekali bukan karena metode pengajarannya.

Yang paling mengerikan dari pelajaran ini adalah mengarang. Apapun itu, cerita tentang liburan, percakapan, worst of all, puisi. Setiap ada tugas ini, my mind gone blank. Never have a clue even how to start. (Semoga anakku tidak baca tulisan ini, bisa-bisa dia bilang, “pantesan aku gak bisa mengarang, ternyata turunan!”).

No one ever told me that mengarang -in the real life we call it menulis- itu leads to many important things. Menulis skripsi saat mau lulus kuliah, menulis CV saat mau melamar kerja, menulis presentasi atau proposal saat menjual ide pada klien atau para bos dan menulis di kolom parent’s comments untuk buku komunikasi sekolah anak.

Ajaibnya, with my writing-incompentency, aku memutuskan untuk blogging yang separuh kerjanya adalah menulis. Why? Karena finally aku punya banyak alasan untuk (kembali) belajar menulis.

So parents, jangan asik-asik ngeblog sendiri, ayo kita beri anak-anak alasan untuk belajar menulis dari sekarang.

Bike 2 School

Maksa banget ya, kalau aku mengaku bahwa aku yang mempelopori tren bike to somewhere, work or school. Padahal, aku melakukannya jauh sebelum bersepeda menjadi sangat populer seperti sekarang ini. I bike, not to my school but to my daughter’s yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah. Saat itu anakku baru masuk tingkat playgroup, sekarang dia sudah di akhir kelas 2 SD, berarti 4 tahun yang lalu aku sudah bike to school.

Walau belum tren, bersepeda memang menyenangkan. Kebetulan rute kami melewati perumahan yang masih banyak pohon besar juga menyusuri sungai kecil. Banyak pemandangan menarik sepanjang perjalanan. My kid and I get to scream together, “meluncuuuuurrrr!” saat jalanan menurun. Sarapan di atas sepedapun biasanya lebih lancar buat si kecil.

Sejujurnya, all that fun was to my three years old daughter. Aku bahagia karena bisa menikmati every joyful smile of her sepanjang perjalanan ke sekolah *emak-emak banget siiiiy*. No fun to bike saat pulang sekolah jam 11.30 siang. No fun bersepeda dengan baju tunik, celana jeans dan sendal berhak 5 cm. No fun at all saat bulan puasa si kecil tetap ngotot bike to school pulang-pergi. No fun pas ngos-ngosan melewati para tukang ojek yang sedang mangkal then they give me a -kenapa gak naik ojek aja sih buuuu?-look.

Ya, kalau no fun, kenapa pilih sepeda? Karena sepeda satu-satunya pilihan yang ada, saat itu. We spend a lot for the best educations we can get for the kids, untuk yang lainnya mengalah. Sepedaku adalah sepeda mini seharga limaratus ribu rupiah di tambah duapuluh ribu untuk tempat duduk boncengan yang disangkutkan di stang. Pretty funny (or ironic?) kalau dibandingkan dengan budget dan alasan para bikers yang tren sekarang ini.

So, am I the trendsetter? *tetepmaksa*