Ramadhan 1432 H – Naura

Alhamdulillaah, tahun ini Naura puasa 29 hari penuh. Minggu awal memang agak berat, bahkan di hari pertama sekolah, siangnya Naura demam. Mungkin dehidrasi karena kelasnya sekarang di lantai 3. Sore selepas Ashar dia keringat dingin. Bikin galau deh. Alhamdulillaah ada ‘obat’ super mujarab, sore itu si Papah sudah di rumah sebelum Maghrib. Kejadian super langka ini sungguh membuat wajah pucat Naura seperti kembali dialiri darah, lalu sanggup mengukir senyum lebar.

Urusan makan, Naura punya cerita yang lebih menyenangkan dibanding kakaknya. Tahun lalu, setiap buka puasa Naura kalap makan risol. Tak kurang 6-8 biji dilahapnya. Tahun ini, minggu pertama Naura tidak bisa berhenti minum teh manis sampai kekenyangan, akhirnya cuma bisa makan nasi sedikit sekali. Minggu ke tiga, mulai ada pertanyaan: “gak puasa sehariiiiii aja Mah, boleh gak?”, pinta Naura. Suatu kali, walau sebelum tarawih sudah makan nasi dengan porsi normal, pulang tarawih Naura ‘duet maut’ sama si Papah. Sungguh pemandangan tiada duanya, seorang ayah (78kg) ┬ádan anak perempuannya (23kg) duduk bersisian menikmati bebek goreng dengan cara yang serupa, ngemut tulang.

Alhamdulilaah, setelah beberapa tahun terakhir selalu tarawih sendiri di rumah, tahun ini bisa di masjid. Demi kelancaran program ini, ada reward boneka “Dress-up-doll” untuk Naura setelah 7 hari taraweh. Tapi rupanya reward ini berlebihan karena hari pertama tarawih dia ketemu teman mainnya di masjid, enjoy dan menantikan tarawih selanjutnya. Besoknya, selesai makan, Naura bersiap tarawih dan berangkat dengan suka hati. Lewat 7 hari, Naura tetap lancar berangkat tarawih walau tanpa iming-iming reward.

Masjid terdekat dari rumah kami ada di luar komplek. Agak jauh but I don’t mind, kan jadi bisa move more (Magic Rules #5 Hypnolangsing). Untuk perempuan di lantai atas, nyaman, banyak angin. Senang akhirnya bisa tarawih di masjid lagi, tapi sedih karena harus jadi saksi bahwa jumlah shaf terus berkurang setiap harinya….. *sigh* ……. masih belum berubah rupanya….

Tarawih di masjid cukup memberikan pengaruh bagi Naura. Dua minggu pertama, Naura bertahan jadi anak manis yang sholat tertib di sebelah mamahnya walau mata lirik sana-sini memantau anak sebayanya yang asyik bercanda. Bisa diduga beberapa hari berikutnya, pengaruh lingkungan mulai bicara. Mulai ada pertanyaan, “boleh gak sholat, sekaliiiiiii aja?” Atau ada gerakan-gerakan aneh, suara bersin tak wajar di tarawihnya Naura. Jajanan di sekitar masjid juga mulai dipertanyakan. Itu apa sih mah? Kenapa temen-temen pada jajan, mah? Aku kenapa gak jajan mah?

Lebaran hari ke dua tanggal 31 Agustus bertepatan dengan ulang tahun Naura yang ke 8. Sang Nini sudah memesan kue dengan dekorasi super heboh. Tapi Naura sempat kecewa, “Kenapa yang dateng nini-nini semua? Temen-temen aku manaaa?” Masih untung dia tidak ingat dengan her birthday present request beberapa minggu sebelumnya. Dia minta iPad *gubrakkk*. Cukup melegakan, dia puas dengan sepatu roda rollerblade sebagai hadiah ulang tahunnya.

Advertisements