Ramadhan 1432H – Wildan

Ramadhan tahun ini sungguh lebih indah, lebih banyak berkah yang kurasakan, terlalu panjang untuk jadi satu artikel saja..

Ramadhan tahun ini, Wildan berhasil menyelesaikan tadarus 30 juz di hari ke 25, dengan ‘motivasi’ yang tepat tentunya. Karena sudah kelas 7, kami memutuskan untuk mengganti reward puasa Wildan dengan reward tadarus. Kami memberikan limapuluh ribu untuk satu juz, kalau khatam selama Ramadhan. Awalnya, dia kurang antusias karena merasa tidak mungkin mampu memenuhinya. That’s my Wildan, give up first, effort later *sigh*. Lalu kami ajak dia membayangkan apa yang bisa dia dapatkan dengan reward yang diterima. Yup, another gaming device, pilihannya: PlayStation Portable. Barulah Wildan tadarus seperti syuting sinetron stripping kejar tayang *mungkin, mana kutahu syuting sinetron kayak apa*. Kemana-mana dia bawa itu Al Qur’an terjemahan yang berat dan setebal yellow pages. And he made it. Btw, jangan bilang-bilang Wildan ya, aku khatam tadarus less than 30 days ya baru taun ini. Biasanya ngepaaasss sampe malem takbiran baru selesai.

Urusan makanan, Wildan masih belum mengalami perubahan signifikan dari tahun lalu. Menemani teh manisnya, ada 3 tajil wajib: kolak pisang, nata de coco dan pukis mini. Setiap hari. Kecuali saat dia ikut ifthor jama’I di sekolahnya. Alhamdulillaah, kami tidak terlalu tergoda berbagai macam es dan gorengan pinggir jalan, jadi tidak sempat terjangkiti batuk pilek selama puasa. Begitu lebaran, lain cerita.

Tahun ini, kita berlebaran di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kota kelahiranku. I don’t really remember when was the last time we went there. Membayangkan cuaca super panas di kota dekat khatulistiwa itu membuat aku berangkat dengan berat hati. Harusnya dengan membayangkan kue bingka, ikan patin bakar, soto banjar, itik panggang dan nasi kuning ikan haruan membuat langkahku lebih ringan kalau tidak ingat hypnolangsing. Angan-angan shopping batu-batu cantik di Martapura pun tak terlalu menggoda. Akhirnya, aku berangkat hanya dengan niat menyenangkan Mama.

Tanggal 28 Agustus kami berangkat ke banjarmasin. Mengantisipasi kemacetan menuju bandara, kami berangkat dari Depok jam 9, mengejar pesawat keberangkatan jam 1. Ternyata, jalanan sepiiiiii, Jakarta, where was everybody?! Jam 10 kami sudah di bandara soetta *manyun 3 jam*.

Di bandara Syamsuddin Noor, saat menunggu bagasi, Wildan mengeluh, “mataku kok perih, Mah?” Kutempelkan tanganku di jidatnya, panas. Galau seketika. Anak non-ASI-ku ini kalau sudah demam, harus ke dokter. So, pagi pertama di Banjarmasin, first destination, rumah sakit.

Kita ikut lebaran tanggal 30 Agustus. Namun di malam takbiran, Wildan bekali-kali talking & walking in his sleep karena demam. Naura gelisah tak bisa tidur karena hawa terlalu panas. Walhasil, kita bertiga tidak ikut sholat Ied karena Wildan sakit dan Naura tidak bisa bangun pagi *manyun*. Alhamdulillaah siangnya Wildan sudah membaik dan kembali mulai menjahili adiknya. Bahkan sore hari sudah bisa ikut menyusuri sungai naik kapal klotok.