10 Cara Mengatasi Hambatan Menulis #2

Silakan baca the first 10 tips di sini.

1. Keep saying to yourself that, “No writer’s block, only laziness”. Anda bukan seorang pemalas ‘kan?
2. Riset, riset, riset. Sumber informasi bisa didapat dari TV, buku, internet atau dengan mewawancarai seseorang. Sebuah artikel pasti akan cepat beres jika Anda memiliki informasi yang lengkap.
3. Saat ide tiba-tiba datang when you in the middle of something, langsung catat, di manapun. Di ponsel, notebook atau di struk belanjaan.
4. Unplug the internet, silent the cellphone, get disconnected, untuk menghilangkan berbagai macam distraction.
5. Sulit untuk memulai sebuah artikel? Try to write from the end to start. Atau coba saja mulai dari tengah.
6. Tak ada gunanya begadang memaksakan otak yang sudah lelah. Get enough sleep, biarkan otak Anda istirahat.
7. Ngobrol dengan sesama penulis, get their opinions and constructive suggestions.
8. Buat deadline pribadi. Mungkin saja Anda termasuk orang yang writes better under pressure.
9. Commit yourself to achieve optimum numbers of words, not writing for a certain amount of time.
10. Baca lagi komentar di artikel Anda sebelumnya. Komentar pembaca bisa memberikan ide untuk kelanjutan atau pengembangan artikel Anda. Beberapa tips di atas terinspirasi dari komentar para sahabat di artikel sebelumnya.

Sahabat punya ide lain for the next 10 tips?

(Sumber: http://www.getfreeebooks.com)

Aku & Menulis

Menulis? Bukan gue banget deeehhh….

Waktu masih sekolah, bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sangat tidak kusukai. Seingatku selama 12 tahun bersekolah, hanya ada satu guru bahasa Indonesia yang lumayan. Waktu SMP ada guru yang digandrungi para siswi karena tampangnya di atas rata-rata dan gosipnya dia pacaran sama anak SMA. Sama sekali bukan karena metode pengajarannya.

Yang paling mengerikan dari pelajaran ini adalah mengarang. Apapun itu, cerita tentang liburan, percakapan, worst of all, puisi. Setiap ada tugas ini, my mind gone blank. Never have a clue even how to start. (Semoga anakku tidak baca tulisan ini, bisa-bisa dia bilang, “pantesan aku gak bisa mengarang, ternyata turunan!”).

No one ever told me that mengarang -in the real life we call it menulis- itu leads to many important things. Menulis skripsi saat mau lulus kuliah, menulis CV saat mau melamar kerja, menulis presentasi atau proposal saat menjual ide pada klien atau para bos dan menulis di kolom parent’s comments untuk buku komunikasi sekolah anak.

Ajaibnya, with my writing-incompentency, aku memutuskan untuk blogging yang separuh kerjanya adalah menulis. Why? Karena finally aku punya banyak alasan untuk (kembali) belajar menulis.

So parents, jangan asik-asik ngeblog sendiri, ayo kita beri anak-anak alasan untuk belajar menulis dari sekarang.